<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesian Photojournalist Association &#187; Journalism</title>
	<atom:link href="http://pewartafoto.org/category/articles/journalism/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pewartafoto.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 May 2013 03:59:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Menjelang Kongres Pewarta Foto Indonesia (PFI) 2013</title>
		<link>http://pewartafoto.org/menjelang-kongres-pewarta-foto-indonesia-pfi-2013</link>
		<comments>http://pewartafoto.org/menjelang-kongres-pewarta-foto-indonesia-pfi-2013#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 May 2013 03:59:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adiguna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Member Services]]></category>
		<category><![CDATA[News and Events]]></category>
		<category><![CDATA[PFI Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[PFI Kepulauan Riau]]></category>
		<category><![CDATA[PFI Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[PFI Medan]]></category>
		<category><![CDATA[PFI Palembang]]></category>
		<category><![CDATA[PFI Palu]]></category>
		<category><![CDATA[PFI Pekanbaru]]></category>
		<category><![CDATA[PFI Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[PFI Solo]]></category>
		<category><![CDATA[PFI Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[Regional]]></category>
		<category><![CDATA[Sulawesi]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewartafoto.org/?p=991</guid>
		<description><![CDATA[Masih terasa aroma kopi yang tersiram dikepala saya saat saya didaulat oleh rekan-rekan Pewarta Foto Indonesia (PFI) pada Kongres PFI di Galeri Nasional tahun 2010 yang lalu. Dan tak terasa hampir tiga tahun telah berlalu sejak moment tersebut. Banyak cerita terekam dalam tiga tahun ini dan rekan-rekan anggota PFI selalu setia merekamnya. Organisasi Perkumpulan PFI [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Masih terasa aroma kopi yang tersiram dikepala saya saat saya didaulat oleh rekan-rekan Pewarta Foto Indonesia (PFI) pada Kongres PFI di Galeri Nasional tahun 2010 yang lalu. Dan tak terasa hampir tiga tahun telah berlalu sejak moment tersebut. </p>
<p>Banyak cerita terekam dalam tiga tahun ini dan rekan-rekan anggota PFI selalu setia merekamnya. </p>
<p>Organisasi Perkumpulan PFI di dasari oleh semangat memajukan fotografi jurnalistik Indonesia dan melindungi anggotanya di tanah air. Menjadi rumah bernaung bagi semua individu yang memilih mendedidaksikan dirinya untuk dengan setia merekam dan mengabarkan cerita manusia melalui bidikan lensa dan foto.</p>
<p>Dalam tiga tahun terakhir semangat itu terus tumbuh dan semakin kuat. Semakin banyak rekan-rekan, khususnya di daerah bergerak untuk terus merapatkan barisan memajukan fotografi jurnalistik Indonesia.</p>
<p>Sesuai dengan mandat Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PFI yang mengatur penyelenggaraan kongres dalam kurun 3 tahun sekali, untuk bersama-sama memilih Badan Pengurus Harian PFI Pusat, maka melalui surat ini kami selaku Ketua Umum Pengurus Harian PFI Pusat mengajak rekan-rekan sekalian untuk bersiap untuk menghadiri kongres PFI 2013 yang akan di selenggarakan pada pertengahan Juli 2013.</p>
<p>Melalui surat ini juga kami menghimbau agar seluruh rekan-rekan di daerah supaya segera menghubungi pengurus PFI Kota masing-masing untuk dapat berkoordinasi dan mengutus minimal 5 wakil dari anggota PFI kota masing masing dan 2 perwakilan pengurus PFI kota untuk dapat mengahadiri kongres untuk melakukan pemilihan Badan Pengurus Harian PFI Pusat periode 3 tahun kedepan.</p>
<p>HANYA ANGGOTA DAN PENGURUS PFI YANG TELAH RESMI MENYELESAIKAN ADMINISTRASI KEANGGOTAAN PFI YANG MEMILIKI HAK SUARA DALAM PROSES PEMILIHAN BADAN PENGURUS HARIAN PFI PERIODE BERIKUTNYA.</p>
<p>Untuk waktu dan tempat penyelenggaraan Kongres PFI akan diumumkan kemudian sementara panitia pelaksana Kongres PFI 2013 menyelesaikan persiapan yang diperlukan. </p>
<p>Salam Foto, tetap semangat,</p>
<p>Jerry Adiguna / Ketua Umum Pewarta Foto Indonesia</p>
<div id="attachment_992" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2013/05/image.jpg"><img src="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2013/05/image-300x209.jpg" alt="- Foto / Irwin Fedriansyah" width="300" height="209" class="size-medium wp-image-992" /></a><p class="wp-caption-text">&#8211; Foto / Irwin Fedriansyah</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewartafoto.org/menjelang-kongres-pewarta-foto-indonesia-pfi-2013/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KOSMETIKA FOTOGRAFI JURNALISTIK INTERNASIONAL</title>
		<link>http://pewartafoto.org/kosmetika-fotografi-jurnalistik-internasional</link>
		<comments>http://pewartafoto.org/kosmetika-fotografi-jurnalistik-internasional#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Feb 2013 11:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisnu widiantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewartafoto.org/?p=858</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Oscar Motuloh Pewarta Foto Antara   November 1979. Setting ceritanya di Tehran. Ketika anti-AS melanda seluruh negeri yang baru saja menumbangkan rezim Shah Iran Reza Pahlevi. Ratusan pemuda Revolusioner  menerobos kedubes AS di ibukota Iran tersebut dan menyandera 56 warga AS sampai setahun kemudian. Namun enam di antaranya berhasil kabur dan minta perlindungan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh :</p>
<p><strong style="font-weight: bold;">Oscar Motuloh</strong></p>
<p><strong>Pewarta Foto Antara</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<div>
<div dir="ltr">
<div>November 1979. Setting ceritanya di Tehran. Ketika anti-AS melanda seluruh negeri yang baru saja menumbangkan rezim Shah Iran Reza Pahlevi. Ratusan pemuda Revolusioner  menerobos kedubes AS di ibukota Iran tersebut dan menyandera 56 warga AS sampai setahun kemudian. Namun enam di antaranya berhasil kabur dan minta perlindungan di kediaman resmi Dubes Kanada, Ken Taylor pada saat itu. Karena penyanderaan terus berlarut maka CIA dan Setneg AS mulai merancang cara untuk menyelamatkan mereka dengan melibatkan seorang agen penyusup bernama Tony Mendez yang menyarankan misi penyelamatan sandera dengan kedok melakukan pembuatan film<em>sci-fi</em> di Tehran berjudul <em>Argo,</em> lengkap dengan casting dan elemen produksi bahkan publikasinya sekaligus.</div>
<div></div>
<div>Di The Dolby Theatre, California, AS, Senin siang (25/2), film <em>Argo</em> arahan bintang Hollywood, Ben Affleck yang sekaligus memerankan tokoh Mendez tadi, diputuskan memenangi Film Terbaik versi <em>Academy Award</em> alias Oscar, setelah menyisihkan kandidat kuat lainnya, macam <em>Lincoln, Life of Pi,  Zero Dark Thirty, Beasts of the Southern Wild, Silver Linings Playbook, Les Miserables dan Django Unchained. </em><em>Begitu pentingnya film pembebasan sandera AS yang kisahnya baru diperbolehkan dipublikasikan pada 1997 tersebut, sekaligus menghormati anugerah Oscar yang telah memasuki tahun penyelenggaraan ke 85, sampai ibu negara AS, Michele Obama yang mengumumkan penghargaan tersebut melalui sambungan video khusus langsung dari Gedung Putih.</em></div>
<div><em> </em></div>
<div><em>Lincoln</em><em>, film besar Steven Spielberg dengan aktor Inggris Daniel Day Lewis yang memenangi Oscar untuk peran utama pria dalam ajang Oscar kali ini dan digadang-gadang majalah berita </em><em>Time</em><em> sebagai pencapaian besar dunia akting sepanjang masa, akhirnya harus mengalah pada </em><em>Argo</em><em> yang diarahkan oleh sutradara yang sebelumnya hanya  dikenal luas dalam perannya di film-film “action romantis” macam </em><em>Pearl Harbour, Armageddon</em><em> atau yang benar-benar “pop-corn” macam </em><em>Gigli</em><em>. </em><em>Argo </em><em>diangkat dari kisah nyata </em>berdasar buku Mendez, <em>“The Master</em><em> of Disguise</em>”, digabung dengan materi dari  artikel &#8220;<em>Escape from Tehran</em>&#8221; yang ditulis Joshuah Bearman.  Adaptasi Penulisan Scenario terbaik juga disabet <em>Argo </em>melalui Chris Terrio, sementara kategori Penyuntingan Terbaik diraih William Goldenberg untuk film yang sama.</div>
<div></div>
<div>Seperti film unggulan lainnya, <em>Lincoln</em> dan  <em>Zero Dark Thirty</em>, sutradara dan kru <em>Argo</em> juga sangat saksama untuk membuat film mereka menjadi karya cinematografi yang serealistis mungkin produksinya. Tentu demi pencapaian logika agar drama tutur visual dari kisahnya mampu menyentuh sanubari para pemirsa film-film bermutu. Ketika para insan film berjibaku meraih atmosfir realitas ke dalam dunia penciptaan cinematografi mereka, justru belantara fotografi  jurnalistik internasional yang sangat puritan melandaskan nafasnya pada atmosfir dan momentum kenyataan, kini cenderung lebih genit dan  tak lagi sepenuhnya realistik. Mereka terlalu sibuk berdandan ria membedaki wajah dan menggincu bibir. Meskipun tetap konsisten menangkap momentum dalam peristiwa yang sesungguhnya. <em> </em></div>
<div></div>
<div>Sepuluh hari sebelum perhelatan ajang Oscar tadi, penghargaan paling prestisius bagi para kuli citra sedunia yang di selenggarakan Yayasan<em>World Press Photo </em>(WPP) diumumkan  di markas besar mereka, Amsterdam. Untuk kesekian kalinya pewarta foto dari tanah Skandinavia memenangi “<em>Photo of the Year” </em>alias karya fotografi jurnalistik terbaik dari seluruh kategori anugerah paling akbar sedunia yang kini telah memasuki pelaksanaan tahun yang ke 56. Sang pemenang, Paul Hansen, adalah kuli citra Swedia yang menetap di Stockholm. Dia bekerja sebagai staf fotografer di harian lokal <em>Dagens Nyheter.</em></div>
<div><em> </em></div>
<div>Berkat penugasan dari kantornya, termasuk reportase yang diprakarsainya sendiri membawanya berkelana jauh di seputaran jagad ini. Hansen memilih bekerja dengan gaya multimedia, termasuk menuliskan sendiri kisah jurnalistiknya. Akibatnya Hansen mendapat kredibilitas positif dari khalayak pembaca korannya. Dalam situs WPP, Hansen disebutkan sebagai pewarta foto kawakan dan tangguh di negerinya. Dia telah meraih tujuh kali anugerah pewarta foto terbaik secara  domestik. Ada empati dalam karakter foto-foto yang diabadikannya.</div>
<div></div>
<div>Pencapaian Hansen menjadi semacam perampungan titian kiprah para pewarta foto kawasan Skandinavia yang meraih penghargaan tertinggi dari kontes paling bergensi sedunia sejauh ini. Dia meneruskan kisah sukses dari para pewarta foto tanah Viking yang meraih penghargaan dari reportase mereka sebagai musafir jurnalistik visual jauh dari tanah air mereka yang damai sejahtera. Tanah air regional orang-orang beradab, tenteram, meskipun sempat ternoda oleh secuil tindakan chauvinistik di Oslo pada bulan Juli 2011 ketika Anders Behring Breivik membantai 77 remaja di perkemahan Liga Pemuda Buruh.</div>
<div></div>
<div>Hansen menjadi penerus para pewarta foto kawasan yang melanjutkan suksesi keberadaan mereka. Adalah fotografer Denmark, Mogens Van Haven yang pertama kali dalam sejarah WPP meraih penghargaan terbaik dalam penyelenggaraan kontes perdana pada tahun 1955 di Amsterdam. Imaji yang dimaksud adalah cuplikan momentum dari suatu kecelakaan yang menimpa seorang pebalap dalam ajang Kejuaraan Dunia Motorcross yang diadakan di Volk Molle. Setelah itu para pewarta foto Skandinavia terus berkiprah dalam kontes yang tahun ini diikuti5.666 pewarta foto dari 124 negara yang menampilkan 103.481 karya foto.  Sementara di awal dekade ini (1999), baru sekitar 3.733 yang tercatat sebagai peserta, 116 negara dengan 36,836 karya foto jurnalistik.</div>
<div></div>
<div>Hansen meraih citra terbaik WPP tahun ini dari cuplikan persitiwa berdarah yang terjadi di jalur Gaza. Kawasan Palestina ini merupakan areal yang tahun ini menjadi lokasi terbanyak kedua yang memperoleh pemenang (3 pewarta foto), di bawah lokasi berdarah di Suriah (5 pemenang). Keberadaan ini agak mengabaikan perihal kembalinya “wabah“ kejahatan bersenjata oleh pelaku tunggal yang di lakukan warga AS di negeri mereka sendiri. Dimulai dari akhir Juli pada 2012, nyaris setahun persis setelah pembantaian remaja yang dilakukan Breivik di suatu pulau kecil di Oslo, Norwegia.  Di bioskop Century di kota kecil Aurora di Colorado, AS, saat penggemar fanatik Batman baru saja duduk menyaksikan penayangan perdana film <em>Batman: Dark Knight Rise</em>. Sekonyong-konyong seorang psikopat bernama James Eagan Holmes mengamuk lalu menembaki penonton dengan senjata otomatisnya. 12 penonton wafat dan 60 lainnya luka-luka.</div>
<div></div>
<div>Pewarta foto dari Agensi <em>Magnum</em>, Paolo Pellegrin mengabadikan cerita kemiskinan dan kekerasan narkoba di kawasan berbentuk bulan sabit di Rochester, New York. Karyanya kemudian dicuplik menjadi pemenang kedua dalam kategori <em>General News</em>. Reputasi pria kelahiran Roma tahun 1964 itu tentu adalah suatu jaminan kredibitas dalam fotografi jurnalistik dunia, namun bukankah cerita serupa di AS sudah berkali-kali ditampilkan dalam ajang ini, termasuk yang secara khusus oleh Anthony Suau, Eugene Richards bahkan Mary Ellen Mark. Mereka  bahkan mengaitkannya dengan industri militer yang menjadi biang keladi dari seluruh perang dan kriminal  secara global. James Nachtwey, pewarta foto perang yang kini begitu pasifis suaranya akhirnya harus melakukan reportase di kampung halamannya yang hancur oleh tindakan teroris yang meleburkan Menara Kembar New York pada 11 September tempo hari. Kota tua yang dicintai dunia, namun dilumat sekejap oleh  pengguna jasa industri militer yang menjadi bisnis utama negaranya.</div>
<div></div>
<div>Meskipun adalah tepat memilih kepingan peristiwa Gaza yang di klik oleh Hansen sebagai perlawanan suara hati pers internasional atas keterlibatan AS dan sekutunya di Timur Tengah yang menjadi ikhwal utama konflik dunia, namun dewan juri WPP tahun ini yang dikomando oleh Sebastian Lyon dan 16 anggota dewan juri lainnya yang datang dari kantor pers di 5 benua mestinya juga berhasil menyampaikan konten peristiwa yang signifikan yang berasal dari cikal bakal peralatan yang memicu kekerasan. AS adalah tanah air senjata api dan rudah balistik nuklir yang sewaktu-waktu dapat digunakan para anarkis dan siapapun pencinta kriminal di seluruh penjuru dunia. Suatu hasil pencapaian teknologi mutakhir peralatan pemusnah manusia yang ironisnya dikembangkan dari Swedia, tanah airnya Alfred Nobel sang penemu dinamit yang kemudian masyhur dengan penghargaan Nobel nya yang sangat prestisus  itu.</div>
<div></div>
<div>Tak ada kejutan berarti yang muncul dalam WPP tahun ini kecuali kekuatan momentum peristiwa yang terekam melalui kamera milik  Hansen tadi. Namun yang menggembirakan, adalah keberhasilan Lutfi Ali, seorang pewarta foto Solo, kontributor koran berbahasa Inggris<em>Jakarta Globe</em> yang berhasil meraih penghargaan sebagai pemenang kedua kategori Nature dalam format foto tunggal. Dia menambah panjang daftar insan pers Indonesia yang beroleh tempat terhormat di WPP, macam Sholahuddin, Kemal Jufri, Kartono Ryadi, Tarmizy Harva, Zaenal Effendy dan Piet Warbung. Lutfi mengabadikan suatu imaji yang sederhana namun kuat dari sepenggal persiapan penampilan seekor kera bertopeng manusia sebelum melakukan pertunjukan topeng monyet. Foto tersebut di beri judul: Mimin.</div>
<div></div>
<div>Satu lagi lokasi Indonesia yang menjadi tempat kemenangan adalah dalam kategori Sport Action. Namun momentumnya diabadikan Chen Wei Seng seorang fotografer salon anggota perhimpunan <em>The Photographic Society of Malaysia</em> yang dibentuk pada tahun 1956. Chen sendiri baru bergabung dengan perkumpulan para hobbis tersebut pada tahun 2005. Imaji yang diabadikannya dengan lensa panjang adalah foto aksi atraksi tradisional Pacu Jawi, di kawasan Tanah Datar, di Sumatera Barat. Atraksi lomba ketangkasan mengendalikan sepasang sapi pacu tersebut merupakan suatu kegiatan diantara panen dan dimulainya musim tanam.</div>
<div></div>
<div>Ekspresi joki yang tertangkap kamera Chen mungkin yang menjadi daya tarik utama dari para juri foto olahraga yang diketuai oleh Bill Frakes, fotografer <em>Sports Illustrated</em> yang mengingatkan orang pada adu kereta kuda dalam film klasik Hollywood, “<em>Ben-Hur</em>“. Imaji yang mengesankan dewan juri WPP itu adalah atmosfir  yang sudah lima tahun belakangan tak lagi menarik bagi para juri foto lokal karena kemungkinan besar akan menggesarnya dari meja pertarungan begitu imaji tersebut tampil dalam suatu lomba.</div>
<div></div>
<div>Namun satu hal lagi yang menarik dari WPP 2013 ini adalah pengaruh dari fenomena <em>post-processing laboratorium</em> alias kamar gelap jaman digital yang menghiasi majalah-majalah berita besar di dunia termasuk Time. Mirip seperti program yang kerap digunakan para fotografer wedding kala mendandani wajah para kliennya. Para pewarta foto dapat melakukan sendiri post-pro ini, atau bagi sejumlah nama besar, cukup menyerahkan filenya pada ahlinya. Lima tahun belakangan sejumlah perusahaan yang bergerak dalam jasa citra ini terus bermunculan. Sebagai penyelaras akhir secara visual sebelum digunakan klien-klien mereka, 10b Lab, misalnya, adalah salah satu penyedia jasa kamar gelap digital paling berpengaruh di dunia fotografi jurnalistik saat ini.</div>
<div></div>
<div>Pewarta foto dari agensi <em>Magnum</em>, <em>Noor</em> bahkan <em>VII</em>, adalah klien mereka. Pendiri lab digital itu adalah Claudio Palmisano seorang programer komputer  dan sohibnya Francesco Zizola. Pewarta foto Finbarr O’Reilly, Paolo Pellegrin, Marcus Blesdale dan Yuri Kozyrev adalah pengguna jasa mereka sejak lama. Pada karya Hansen, meskipun post-pro tak dikerjakan oleh <em>10b</em>, namun polesan kamar gelap digitalnya cukup kental terasa. Mari simak dramatisasi keselarasan atmosfir warna pada peristiwa yang terekam dalam lensanya.</div>
<div></div>
<div>Suatu pengontrolan diri yang luarbiasa dilakukan Hansen dalam pusat pusaran konflik di dunia. Dengan speed 1/800 dan ketajaman ruang f.5, di suatu pencahayaan yang cerah, dengan kamera canggih Canggih 5D mark III, Hansen berlari kecil di depan iring-iringan jenasah kakak beradik Suhaib dan kakaknya Muhammad Hijazi yang digendong sanak keluarga menuju ke masjid terdekat untuk prosesi pemakaman. Anak-anak Palestina ini adalah korban  serangan roket maut Israel yang menghantam kediaman mereka di Gaza. Ayah mereka, Fouad, wafat seketika setelah serangan sementara ibu mereka tengah menjalani perawatan darurat di RS Gaza.</div>
<div></div>
<div>Rekaman momentum peristiwa yang diabadikan Hansen tentu adalah peristiwa lapangan yang sesungguhnya. Namun penentuan dramatisasi polesan kamar gelap digital Hansen atas kondisi atmosfir lapangan rasanya tak lagi sepenuhnya realistis. Apalagi pencapaian teknologi fotografi digital kini dapatlah dikatakan telah melampaui kemampuan teknis penglihatan aktual mata manusia. Sehingga pengertian realistis secara konvensional  tetaplah suatu landasan pokok perihal kesaksian yang diabadikan dalam nurani kamera setiap pewarta foto.</div>
<div></div>
<div>Macam pengertian pleonasme dalam tata bahasa. Pleonasme adalah suatu majas atau gaya bahasa yang artinya kurang lebih seperti kalimat yang menggunakan kata-kata lebih dari yang dibutuhkan. Semacam kosmetika dalam fotografi jurnalistik. Jika tata rias yang simpel telah cukup membawa kesaksian visual seorang pewarta foto dalam  karya fotografi jurnalistiknya yang jujur, kenapa imaji tersebut harus didandani secara berlebihan dan menor seperti para programer yang memoles wajah para balon eksekutif sedemikian rupawan dalam spanduk pilkada yang mengotori sudut-sudut pemandangan kota.</div>
<div></div>
<div>Pesta gemerlap di <em>The Dolby Theatre</em> telah usai, para pembuat imaji fiksi dalam cinematografi dunia telah kembali ke kediamannya masing-masing, barangkali untuk membersihkan kosmetika basa-basi yang menempel di wajah dan bibir ranum para aktris pendukung. Sorot lampu perlahan memudar seolah mengantar mereka kembali ke alam realita kehidupan yang berputar seperti detak jam di dinding.  Atau mungkin seperti detak jantung seorang pewarta foto yang tengah berjalan menyusuri lorong terakota usai meliput perhelatan besar yang barusan berlalu. Kemudian dia sempat membaca selintas <em>tagline</em> dalam baliho film <em>Argo</em> yang tersapu kilatan lampu mobil. Begini bunyinya, “<em>T</em><em>he movie was fake, the mission was real</em>“.</div>
<div></div>
<div></div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewartafoto.org/kosmetika-fotografi-jurnalistik-internasional/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PAMERAN FOTO KARYA SIBYLLE BERGEMANN &#8211; BENTARA BUDAYA, JAKARTA, 23 FEBRUARI &#8211; 5 MARET 2013</title>
		<link>http://pewartafoto.org/pameran-foto-karya-sibylle-bergemann-bentara-budaya-jakarta-23-februari-5-maret-2013</link>
		<comments>http://pewartafoto.org/pameran-foto-karya-sibylle-bergemann-bentara-budaya-jakarta-23-februari-5-maret-2013#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Feb 2013 19:20:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adiguna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Member Services]]></category>
		<category><![CDATA[News and Events]]></category>
		<category><![CDATA[Photographer Directory]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Social and Politics]]></category>
		<category><![CDATA[internasional]]></category>
		<category><![CDATA[jerman]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewartafoto.org/?p=839</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#8220;Saya tertarik kepada bagian pinggir dunia, bukan tengahnya. Hal yang tidak tergantikan adalah penting bagi saya jika ada sesuatu yang tidak pas pada wajah atau pemandangan.”  -  Sibylle Bergemann &#160; Melalui pameran ini, karya-karya salah satu fotografer wanita Jerman ternama di zaman ini hendak diperkenalkan dengan lebih ekstensif kepada khalayak internasional. Foto-foto karya Sibylle Bergemann yang lahir [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2013/02/sibylle-bergemann.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-925" alt="sibylle-bergemann" src="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2013/02/sibylle-bergemann.jpg" width="400" height="550" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;Saya tertarik kepada bagian pinggir dunia, bukan tengahnya. Hal yang tidak tergantikan adalah penting bagi saya jika ada sesuatu yang tidak pas pada wajah atau pemandangan.”  -  Sibylle Bergemann</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melalui pameran ini, karya-karya salah satu fotografer wanita Jerman ternama di zaman ini hendak diperkenalkan dengan lebih ekstensif kepada khalayak internasional. Foto-foto karya Sibylle Bergemann yang lahir di Berlin terasa mengejutkan karena begitu beragam – mode, reportase, esai, pemandangan, pemandangan kota dan potret sama-sama dikuasainya secara meyakinkan. Bergemann membangun reputasi sebagai fotografer mode, tetapi juga dikenal pandai membuat esai foto dan jeli mengamati kaitan-kaitan terselubung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah kesuksesan dua pameran di &#8216;Akademie der Künste&#8217;, Berlin dan &#8216;Museum für Photographie&#8217; di Braunschweig, pameran ini merupakan bagian dari tur internasional yang terselenggara atas dukungan Institut für Auslandsbeziehungen e.V., (ifa).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Foto-foto yang ditampilkan dicirikan oleh pandangan kritis terhadap realitas kehidupan di Jerman Timur. Namun sang fotografer juga selalu ingat bahwa foto bukan sekadar citra, melainkan merupakan medium yang memberikan petunjuk mengenai berbagai kaitan dalam realitas, dan sekaligus menginterpretasi dan menyikapinya. Foto-foto Bergemann menjadi simbol dalam detail, menghadirkan kisah dan lambang dalam nuansa-nuansa halus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Sepertinya sang fotografer bermaksud mengangkat sesuatu yang hadir melalui ketidakhadirannya. Catatan ringkas dari jarak dekat, pencarian jejak, hasil suatu perjalanan kedunia mimpi.”  -  Matthias Flügge, 2006</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aspek dalam karya Bergemann ini mendapat penekanan khusus dalam simbolis mecitra situasi dan pemandangan kawasan perkotaan, serta dalam kiprahnya dengan medium Polaroid. Bergemann mulai memfokuskan perhatian kepada foto situasi dan pemandangan di Berlin pada akhir tahun 60-an, dan sejak itu menggarap tema tersebut, antara lain juga di New York, Paris, Tokio dan Sao Paulo.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>PAMERAN FOTO KARYA SIBYLLE BERGEMANN</p>
<p>Pameran</p>
<p>23.02 – 05.03.2013 / 11.00-19.00</p>
<p>Pembukaan</p>
<p>22.02.2013 / 19.30</p>
<p>Diskusi</p>
<p>27.02.2013 / 19.30</p>
<p>Pembicara: Erik Prasetya, Dave Lumenta, Ipong Purnama Sidhi</p>
<p>Moderator: Henri Ismail</p>
<p>Galeri Bentara Budaya</p>
<p>Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta Pusat</p>
<p>Gratis, terbuka untuk umum</p>
<p>Kontak dan Informasi:</p>
<p>www.goethe.de/jakarta<br />
tiket@jakarta.goethe.org<br />
+62 21 2355 0208 (ext. 116)<br />
Goethe-Institut Indonesien<br />
@GI_Indonesien</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: 2em;">Sibylle Bergemann</span></p>
<h1 lang="en"><span style="font-size: 13px;">From Wikipedia, the free encyclopedia </span></h1>
<div id="bodyContent">
<div></div>
<div><strong>Sibylle Bergemann</strong> (29 August 1941 – 2 November 2010) was a <a title="Germany" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Germany">German</a> photographer. In 1990, she cofounded the Ostkreuz photographers agency. She is remembered for documenting developments in <a title="East Berlin" href="http://en.wikipedia.org/wiki/East_Berlin">East Berlin</a> during the Communist era and for her international assignments for <em><a title="Stern (magazine)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stern_(magazine)">Stern</a></em> and later for <em><a title="GEO (magazine)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/GEO_(magazine)">Geo</a>.</em></div>
<div></div>
<div></div>
<div><span style="font-size: 1.5em;">Early life</span></div>
<div dir="ltr" id="mw-content-text" lang="en">
<p>Born in 1941 in Berlin where she was raised and educated, she first worked as a secretary for the East German periodical <em>Das Magazin</em>. Interested in art and culture, from 1966 she studied photography in the <a title="Weissensee (Berlin)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Weissensee_(Berlin)">Weissensee</a> district of Berlin under the photographer Arno Fischer, with whom she was married from 1985.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: 1.5em;">Career as photographer</span></p>
<p>After first contributing to leading East German periodicals of the time, <em>Das Magazin</em> and <em>Sonntag</em>, in the early 1970s, her photographs started to appear in the women&#8217;s fashion magazine <em>Sibylle</em> where she soon developed her own style. Her portraits were not analytical but rather descriptive, showing people as they appeared in real life.<sup id="cite_ref-1"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sibylle_Bergemann#cite_note-1">[1]</a></sup> She moved on from fashion to photograph first her own country, East Germany, and later the rest of the world. In 1990, together with Ute Mahler and <a title="Harald Hauswald" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Harald_Hauswald">Harald Hauswald</a>, she founded the Ostkreuz agency, which now represents a score of photographers.</p>
<p>Perhaps Bergemann&#8217;s most important legacy is the series of black-and-white photographs she took of everyday life in East Germany as it evolved over the years. Later, she compiled photographic reportages about <a title="New York" href="http://en.wikipedia.org/wiki/New_York">New York</a>, <a title="Tokyo" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tokyo">Tokyo</a>, <a title="Paris" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Paris">Paris</a> and <a title="São Paulo" href="http://en.wikipedia.org/wiki/S%C3%A3o_Paulo">São Paulo</a>; and even more recently, turning from black and white to colour, she travelled through Africa and Asia on assignments for <em><a title="GEO (magazine)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/GEO_(magazine)">Geo</a></em>.<sup id="cite_ref-2"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sibylle_Bergemann#cite_note-2">[2]</a></sup></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: 1.5em;">Recognition</span></p>
<p>In 1994, Bergemann&#8217;s talent was recognized when she became a member of Berlin&#8217;s <a title="Akademie der Künste" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Akademie_der_K%C3%BCnste">Akademie der Künste</a>. In 2007, she held an exhibition of her work at the Museum für Photographie in <a title="Braunschweig" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Braunschweig">Braunschweig</a>. She explained her approach to photography in just a few words: &#8220;I&#8217;m interested in the edges of the world, not the centre.&#8221;<sup id="cite_ref-3"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sibylle_Bergemann#cite_note-3">[3]</a></sup></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: 1.5em;">Book contributions by Bergemann</span></p>
<p>*This list is not complete.</p>
<ul>
<li><em>Die Stadt. Vom Werden und Vergehen / The City. Becoming and Decaying.</em> Ostfildern: Hatje Cantz Verlag, 2010. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Special:BookSources/9783775726597">ISBN 978-3-7757-2659-7</a>. (German)(English)</li>
<li><em>Ostzeit. Geschichten aus einem vergangenen Land / Stories from a Vanished Country.</em> Ostfildern: Hatje Cantz Verlag, 2010. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Special:BookSources/9783775724869">ISBN 978-3-7757-2486-9</a>. (German)(English)</li>
</ul>
<div dir="ltr" id="mw-content-text" lang="en"></div>
<div dir="ltr" lang="en"><span style="font-size: 1.5em;">References</span></div>
<div>
<ol>
<li id="cite_note-1"><strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sibylle_Bergemann#cite_ref-1">^</a></strong> <a href="http://www.zeit.de/kultur/kunst/2010-11/fs-sibylle-bergemann" rel="nofollow">&#8220;Sibylle Bergemann: Eine leise Künstlerin&#8221;</a>, <em>Zeit Online</em>, (German) 5 November 2010. Retrieved 8 November 2010.</li>
<li id="cite_note-2"><strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sibylle_Bergemann#cite_ref-2">^</a></strong> <a href="http://www.abc.es/agencias/noticia.asp?noticia=576223" rel="nofollow">&#8220;Muere la fotógrafa alemana Sibylle Bergemann que documentó la vida en la RDA&#8221;</a>, <em>ABC.es</em>, (Spanish) 3 November 2010. Retrieved 8 November 2010.</li>
<li id="cite_note-3"><strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sibylle_Bergemann#cite_ref-3">^</a></strong> <a href="http://www.kunstmarkt.de/pagesmag/kunst/_id221891-/news_detail.html?_q=%20" rel="nofollow">&#8220;Heinrich Riebesehl und Sibylle Bergemann gestorben&#8221;</a>, <em>Kunstmarkt.com</em>, 2 November 2010. (German). Retrieved 8 November 2010.</li>
</ol>
</div>
<div></div>
<div><span style="font-size: 1.5em;">External links</span></div>
<ul>
<li><a href="http://www.ostkreuz.de/photographer/2/bio/" rel="nofollow">Bergemann at Ostkreuz</a></li>
<li>&#8220;<a href="http://www.goethe.de/kue/bku/kuw/en6451444.htm" rel="nofollow">Public Eye – Ostkreuz Photography Agency Turns 20</a>&#8220;. Goethe Institut.</li>
</ul>
</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewartafoto.org/pameran-foto-karya-sibylle-bergemann-bentara-budaya-jakarta-23-februari-5-maret-2013/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto Pengungkap Rahasia</title>
		<link>http://pewartafoto.org/foto-pengungkap-rahasia</link>
		<comments>http://pewartafoto.org/foto-pengungkap-rahasia#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 15:13:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nickmatulhuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[Law and Justice]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<category><![CDATA[Social and Politics]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewartafoto.org/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Frame foto saya menunjukkan pukul 11:39:23 saat saya mulai mengambil gambar Arifinto. Semua foto telah saya serahkan kepada redaksi Media Indonesia,&#8221; kata Irfan. &#8220;Saya mengambil cukup banyak gambar, sekitar 60. Frame terakhir menunjukkan pukul 11:41:57&#8243;. M. Irfan, pewarta foto Media Indonesia, berharap tidak perlu lagi mengulangi pernyataan itu saat diwawancara pewartafoto.org. Lewat sambungan telepon, pada [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Frame foto saya menunjukkan pukul 11:39:23 saat saya mulai mengambil gambar Arifinto. Semua foto telah saya serahkan kepada redaksi Media Indonesia,&#8221; kata Irfan. &#8220;Saya mengambil cukup banyak gambar, sekitar 60. Frame terakhir menunjukkan pukul 11:41:57&#8243;</em>. M. Irfan, pewarta foto Media Indonesia, berharap tidak perlu lagi mengulangi pernyataan itu saat diwawancara <strong>pewartafoto.org</strong>.</p>
<p>Lewat sambungan telepon, pada Selasa (11/4) pagi, di tengah hari liburnya, Irfan berbagi cerita dan pandangannya sebagai seorang pewarta foto tentang foto menghebohkan yang menghiasi pemberitaan sejak Jumat (8/4) lalu. Sebagai rekan seprofesi, kita tahu apa yang sebuah kamera digital bisa lakukan dengan <em>continuous mode</em> selama 2 menit 34 detik. 60 frame bahkan terlalu sedikit. Pewarta foto yang sudah hampir satu dekade bekerja di Media Indonesia itu, memberi bocoran bahwa pada saat ia &#8220;melihat kenyataan&#8221; yang dilakukan seorang anggota dewan (saat memotret, ia masih belum tahu identitas sang pengguna komputer tablet itu) lewat kameranya, <em>memory card</em> yang terpasang masih berisi foto-foto kemarin yang belum sempat ia hapus. &#8220;Aku motret terus hingga CF nya full. Memang pake <em>continuous</em>, tapi tetap nunggu momen sampai ia buka folder dan menunjukkan momen yang pas,&#8221; jelasnya. &#8220;Pelajaran juga nih untuk teman-teman, setiap hari kalau bisa, folder harus kosong. Biar kalau dapat hal seperti ini, hasilnya bisa maksimal&#8221;.</p>
<p>Irfan menganggap tidak tepat bila momen yang berhasil ia abadikan itu, murni faktor keberuntungan. “Harus ada usaha lah, motret dewan yang sedang melakukan hal lain saat berlangsung sidang paripurna itu kan bukan sekali dua kali. Kalau kita tidak usaha terus mencari momen yang unik dari hal yang sudah biasa itu, kita hanya akan dapat foto yang membosankan”. Laki-laki penyayang binatang yang berusia 40 tahunan ini memang bukan sekali ini saja memotret di DPR. Bahkan hampir dua tahun belakangan, ia telah ditugaskan untuk ngepos di gedung parlemen tersebut, bergantian dengan rekan sekantornya, Susanto. Tidak banyak pewarta foto yang menyukai diposkan di tempat-tempat yang gampang membuat jenuh seperti DPR dan Istana. Tapi Irfan mengaku tidak mengeluh, “Ini kan bentuk pertanggung jawaban terhadap profesi, ditempatkan di mana pun ya terima saja dan terus berusaha menampilkan yang terbaik”.</p>
<p>Tanpa menapik bahwa memang bisa sangat membosankan untuk memotret di DPR, Irfan berpendapat, “Pewarta foto tidak boleh cepat menyerah pada kebosanan dan harus terus berusaha untuk mencari sesuatu yang benar-benar baru dengan menghindari pengulangan. Memang tidak bisa tiap hari juga dapat foto yang menarik dan berbeda, tapi kalau kita tidak mencari, fotonya ya cuma orang duduk, ngomong, bangku kosong dan interupsi. Insting kita harusnya ya mencari aktivitas anggota dewan yang unik, biar tidak monoton”.</p>
<p>Lucunya, kebosanan dan jenuh saat sidang juga yang menjadi dalih Arifinto yang dikonfrontir tentang kejadian itu. Posisi Irfan yang berada tepat di atas Arifinto yang tengah duduk di bangku pojok kiri belakang – tidak jauh dari pintu keluar ruangan sidang Paripurna, membuatnya bisa men-zoom ke gadget yang dipegang anggota DPR dari Fraksi PKS itu sehingga bisa melihat dengan jelas apa yang saat itu terjadi. “Yah, jenuh itu manusiawi, tapi kita jangan sampai salah langkah,” pesan Irfan.</p>
<p>Lebih lanjut Irfan menuturkan kejadian menjelang waktu solat Jumat tersebut. “Sesudah aku motret aksi walk out Gerindra dan PDIP, aku balik lagi untuk motret suasana kosong dari Balkon. Saat cari angle yang bagus, aku tertarik lihat anggota dewan (Arifinto) yang memainkan <em>gadget</em>nya. Aku lihat kok filenya kotak-kotak berjejer, berbentuk <em>thumbnail</em>. Waktu memotret, aku belum tahu dia sebenarnya sedang ngapain.” –versi lengkapnya bisa dibaca di sejumlah artikel mediaindonesia.com – “Ketika aku close up hingga ambil tangannya yang megang tablet, aku baru sadar bahwa ia sedang menonton film porno. Kalau dari yang kulihat di layar itu sih orang Asia. Saat itu aku kaget dan langsung motret momen demi momen secara cotinue.” Karena waktu itu sudah masuk waktu solat Jumat, Irfan pun baru mengirim foto tersebut sesudahnya. Sambil berkelakar, ia menggoda teman-teman yang lain yang juga ngepos di DPR. “Gue udah tenang Mam, sudah dapat foto HL!” ujarnya mengingat percakapannya dengan Imam Sukamto, pewarta foto Koran Tempo. Kehebohan langsung terjadi saat teman-teman di ruangan pressroom itu melihat Irfan mengedit foto. Namun baik Irfan maupun teman-teman yang lain, tidak menyadari kehebohan tersebut akan bertambah besar, sesudah foto tersebut naik dan menjadi HL di website Media Indonesia. (untuk melihat rangkaian foto yang menghebohkan itu, klik di <a href="http://www.mediaindonesia.com/foto/9769/Foto-foto-Eksklusif-M-Irfan" target="_blank">sini</a>)</p>
<p>“Sebenarnya, sesudah aku dapat foto itu, aku langsung telepon Mas Hariyanto – redaktur foto Media Indonesia – Aku bilang, mas, aku dapat foto sidang paripurna, anggota DPR nonton <em>BF (Blue Film)</em>. Dia langsung jawab, mantaap! Kirim! Cari tahu siapa orangnya!” jelas Irfan kepada <strong>pewartafoto.org</strong>. Editor yang bertanggung jawab hari itu, Agus Mulyawan dan M. Soleh pun langsung berkomentar “Oke Fan, Sudah lihat fotonya! Gilaaa!”. Selang beberapa jam setelah HL di mediaindonesia.com, foto-foto tersebut langsung menghiasi hampir semua media online di Indonesia. Seorang anggota fraksi PKS yang sedang menghadiri diskusi di pressroom pun langsung diminta konfirmasi mengenai sosok yang diduga Arifinto tersebut. Jumat sorenya, Arifinto akhirnya mengelar konferensi pers untuk memberikan klarifikasi.</p>
<p>Irfan tidak kalah tenar dari Arifinto. Menjelang Jumat sore itu, ia juga diburu oleh wartawan lain untuk dimintai keterangan. Beberapa teman bahkan mengkhawatirkan keselamatannya karena masih tetap memotret di DPR di tengah kehebohan itu. “Lillahi Taala saja. Bismillah,” ucapnya pasrah. Salah satu alasan mengapa kehebohan itu terjadi, karena foto yang dipasang di media onlinenya menunjukkan konten video yang begitu jelas, dan tidak di-blur-kan. Media Indonesia akhirnya mengambil keputusan untuk mengganti foto tersebut dengan foto yang lebih “bijaksana” dan menarik Irfan kembali ke kantor untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.</p>
<p><strong>Rahasia Gayus di Bali<br />
</strong></p>
<p>Karya pewarta foto yang menghebohkan, bukanlah sesuatu hal yang baru. Baru-baru ini belum lepas dari ingatan kita, foto Gayus Tambunan yang memakai wig dan “libur” dari penjara, untuk menonton pertandingan Tenis di Bali. Meskipun ada beberapa pewarta foto yang memotret hal yang sama, satu pewarta foto Kompas, Agus Susanto merupakan yang paling tenar di antara yang lain.</p>
<p>“Aku ngga tahu jelasnya ada berapa yang motret saat itu, soalnya banyak juga hobiis,” terang Ags, panggilan akrabnya. “Waktu itu aku malah dikasih tahu Peksi Cahyo (Tabloid Bola) waktu mau masuk lapangan&#8221;. Hari itu adalah hari kedua berlangsungnya Commonwealth Bank Tournament of Championship di Bali. Mungkin karena sudah sering ditanya tentang hal yang sama, Ags mengingat persis bahwa pada Jumat, 5 Nopember 2010 itu, ia sedang memotret pertandingan kedua hari itu, yakni antara Yanina Wickmayer (Belgia) melawan Daniela Hantuchova (Slowakia). Ags yang sering dianggap mirip dengan Rhoma Irama ini, mengaku penjaga tiket adalah orang pertama yang melihat orang mirip Gayus dan memberi tahu wartawan yang masuk venue. “Tapi ya itu, harus dicari sendiri di antara sekitar 500 penonton.”</p>
<p>Untungnya, konsentrasi Ags saat memotret jalannya pertandingan tidak perlu terganggu dengan misinya mencari orang mirip Gayus. “Fokusku kan ke pertandingan pertama, sedangkan pertandingan kedua aku cuma bikin stock buat profile saja,” terangnya. Butuh waktu hampir satu jam dengan harus pindah tempat duduk tiga kali untuk menemukan orang yang dimaksud.</p>
<div id="attachment_402" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-402" href="http://pewartafoto.org/foto-pengungkap-rahasia/mpphoto48658_201011-11-103926p"><img class="size-medium wp-image-402" title="mpphoto48658_201011-11-103926p" src="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2011/04/mpphoto48658_201011-11-103926p-300x212.jpg" alt="" width="300" height="212" /></a><p class="wp-caption-text">Photo Gayus Tambunan by Kompas/Agus Susanto</p></div>
<p>Meskipun nama Ags yang paling sering disebut-sebut dalam pemberitaan, namun foto Sony Laksono alias Gayus Tambunan itu justru baru diterbitkan Kompas sehari sesudah koran The Jakarta Globe memuatnya. Saat ditanyakan kenapa, Ags hanya menjawab singkat pada <strong>pewartafoto.org</strong>, “Itu urusan redaksional, belum ada berita yang kuat saat itu yang bisa mendukung foto.” Saat ini kasus yang sempat menyeret namanya itu sudah selesai, karena Gayus telah mengaku pada persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.</p>
<p>Seperti halnya Irfan, Ags juga mengaku tidak takut dengan konsekuensi yang mungkin terjadi dengan pemuatan foto tersebut. “Tidak lah, itu kan tugas jurnalis, sebagai kontrol sosial,” katanya bijak. Editor fotonya pun saat itu hanya mengatakan, “Santai saja, kamu boleh libur seminggu.”</p>
<p>Juga lewat telepon, Redaktur Foto Media Indonesia, Hariyanto mengungkapkan kebanggannya akan kerja keras Irfan pada <strong>pewartafoto.org</strong>. “Bangga dong. Karena apa yang selama ini kita usahakan bersama-sama, sebagai tim di desk foto Media Indonesia kan ada hasilnya. Yaitu menghasilkan satu foto yang eksklusif, yang tidak dihasilkan orang lain,” ujarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewartafoto.org/foto-pengungkap-rahasia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>On Line Newspaper</title>
		<link>http://pewartafoto.org/on-line-newspaper</link>
		<comments>http://pewartafoto.org/on-line-newspaper#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2011 09:53:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nickmatulhuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewartafoto.org/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini merupakan kontribusi member forum PFI, Ignatius Liliek, yang sekiranya bisa menambah pengetahuan rekan-rekan. Koran adalah medium massa utama bagi orang yang menginginkan memperoleh informasi atau tentang segala macam berita. Di sejumlah kota-kota besar, tak ada sumber berita yang bisa mensejajarkan keluasan dan kedalaman liputan berita koran. Hal ini secara tidak langsung memperkuat popularitas [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em><a rel="attachment wp-att-208" href="http://pewartafoto.org/on-line-newspaper/suarapembaruan"><img class="size-medium wp-image-208 alignleft" title="suarapembaruan" src="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2011/03/suarapembaruan-300x207.jpg" alt="" width="300" height="207" /></a>Tulisan ini merupakan kontribusi member forum PFI, Ignatius Liliek, yang sekiranya bisa menambah pengetahuan rekan-rekan.</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Koran adalah medium massa utama bagi  orang yang menginginkan memperoleh informasi atau tentang segala macam  berita. Di sejumlah kota-kota besar, tak ada sumber berita yang bisa  mensejajarkan keluasan dan kedalaman liputan berita koran. Hal ini  secara tidak langsung memperkuat popularitas dan pengaruh koran (Vivian,  2008). Namun, pada masa perkembangannya bukan berarti medium massa ini  tidak pernah menghadapi masalah. Ancaman dari media pesaing, pergeseran  gaya hidup dan hadirnya teknologi baru merupakan sejumlah contoh  permasalahan yang harus dihadapi koran. Selain itu, masalah lain yang  cukup menyulitkan medium cetak ini adalah banyaknya generasi muda yang  meninggalkan koran. Menghadapi permasalahan tersebut sampai saat ini  koran selalu bereaksi secara efektif, seperti ketika menandingi serbuan  televisi, koran memberikan perhatian dan penekanan baru sebagai medium  visual dan menyajikan lebih banyak gambar serta foto berita berwarna  yang penuh dengan estetika (Vivian, 2008).</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Industri koran  perlahan mulai menyadari bahwa kejayaan teknologi tinta dan kertas mulai  terbatas, untuk itu medium ini mulai mempertimbangkan metode baru  berupa pengiriman secara elektronik. Pengiriman elektronik merupakan  metode pengiriman berita langsung ke layar komputer pembaca (Vivian,  2008). Koran masuk ke dunia internet pada tahun 1990-an dengan membuat  situs-situs berita, pada tahun 1994 baru sekitar 20-an koran harian  sudah memiliki websites dan pada 2009 tidak ada satu pun surat kabar  yang tidak memiliki website. Peralihan dari media tradisional ke media  digital ini merupakan bagian untuk menyelamatkan bisnis media dengan  menghemat pengeluaran dan menaikkan keuntungan serta beradaptasi dengan  gaya hidup baru pembaca yang senantiasa selalu berubah (Dominick, 2011).</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Surat kabar on line menawarkan  sejumlah keuntungan yang  lebih bila dibandingkan dengan dari media tradisional antara lain; (1)  Surat kabar cetak selalu mengeluarkan per edisi dan terbatas. Media on  line tidak memiliki keterbatasan, keseluruhan isi teks berita, transkips  wawancara, informasi grafis maupun foto dapat diakses dengan mudah. (2)  Surat kabar on line dapat di perbaharui secara terus menerus dan tidak  memiliki edisi deadlines. (3) Surat kabar on line bersifat interaktif  seperti alamat e-mail, bulletin, chat rooms, maupun komplain dari  pembaca yang dapat langsung direspon dengan cepat oleh redaksi. Surat  kabar on line juga bisa memberikan informasi berupa link ke website  lainnya. (4) Surat kabar on line menyediakan foto, video, klip audio  untuk melengkapi berita dan iklan. Bahkan, beberapa juga menawarkan  kesempatan untuk berinteraksi dengan jaringan sosial. (5) Surat kabar on  line juga menampilkan berita-berita dari pembaca atau user (Dominick,  2011).</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Salah satu karakter surat kabar on line adalah  mengirim langsung berita ke pembaca. Koneksi internet  yang dapat  dilakukan melalui telepon genggam dan laptop cenderung membuat sejumlah  orang untuk mengakses berita langsung melalui telepon genggam yang  mereka miliki. Akses berita melalui telepon genggam ini cenderung  meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Hal ini membuat sejumlah media  menawarkan aplikasi program langganan edisi mobile ke dalam teknologi  telepon genggam. Penawaran aplikasi langganan edisi mobile ini  berpotensial meningkatkan pemasangan iklan di media tersebut, karena  iklan tersebut akan langsung dikirim secara digital secara personal ke  telepon genggam konsumen (Dominick, 2011). Berkembangnya sosial media di  internet juga dimanfaatkan oleh surat kabar on line untuk meningkatkan  atau membangun readership. Salah satunya contohnya adalah dengan  menyediakan judul berita utama headline mereka ke dalam jaringan sosial  media, twitter.  Selain itu, penggunaan sosial media ini juga dapat  meningkatkan interaksi pembaca pada saat liputan, breaking news maupun  acara-acara liputan langsung dengan memberikan kesempatan kepada  followers media tersebut untuk mengomentari sebuah berita (Baran, 2010).</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Usaha  penyelamatan bisnis media ini terus menerus  dilakukan dengan menciptakan inovasi-inovasi. Namun, sejumlah keuntungan  dari peralihan media tradisional ke media digital ini juga tidak serta  merta membuat medium massa ini menjadi sumber pendapatan yang signifikan  bagi perusahaan koran masa kini, terutama mengingat biaya dalam membuat  website sangat murah sehingga media pesaing lainnya  seperti stasiun  televisi dan stasiun radio juga dapat melakukan hal yang sama dengan  membuat situs yang cukup memiliki daya saing (Vivian, 2008). Selain itu,  pendapatan yang dihasilkan melalui iklan tidak sebesar seperti pada  edisi cetak, para pemasang iklan mengetahui bahwa pembaca pada versi on  line tidak menghabiskan waktu yang lama ketika mengakses sebuah web  surat kabar on line, mereka hanya melihat versi cetak pada web tersebut  yang biasanya ditampilkan dalam bentuk e-paper (Dominick, 2011). Hal ini  berarti surat kabar cetak masih menjadi suplai utama penghasilan  industri koran masa kini, sehingga hal tersebut juga dapat menepis  pernyataan yang menganggap bahwa media ini akan hilang. Melihat hal  tersebut industri koran ini juga harus bereksplorasi memikirkan cara dan  fungsi barunya untuk dapat menghasilkan pendapatan lebih besar lagi,  seperti dengan merencanakan kerjasama iklan bersama perusahaan internet  seperti Yahoo!, google atau perusahaan media besar lainnya. (Dominick,  2011).</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Kemunculan sebuah media baru pasti selalu diikuti  dengan perkembangan industri tersebut, dengan menggunakan teknologi  terkini sebuah industri lama dapat dipaksa melakukan restrukturisasi  mengikuti perubahan dalam skala yang luas dan cepat. Perusahaan besar  dengan teknologi lama mengalami kemunduran, sedangkan perusahaan baru  mendapatkan keuntungan yang lebih besar melalui teknologi baru yang  digunakan.  Untuk dapat bertahan perusahaan yang lama ini harus berusaha  menghadapi persaingan dengan memikirkan cara-cara baru sebagai sebuah  strategi untuk dapat mensejajarkan produknya dengan perusahaan lain yang  menggunakan teknologi baru dalam menyampaikan pesan terhadap khalayak  luas. Terkadang perusahaan lama ini berhasil mempertahankan medianya,  namun tidak sedikit pula yang gagal (Baran dan Davis, 2010). Proses  diatas disebut dengan teori functional displacement dimana fungsi dari  media yang ada digantikan oleh teknologi baru, maka media lama kemudian  mencari fungsi yang baru (Baran dan Davis, 2010).  Sebagai contoh,  seperti terdapat pada tulisan diatas dimana industri koran pada waktu  bereaksi dengan lebih memperhatikan dan menyajikan medium visual yang  berwarna dan artisitik lebih banyak ketika menghadapi serbuan televisi.  Selain itu contoh yang lain pada media elektronik adalah penurunan  penonton jaringan televisi secara terus menerus yang disebabkan oleh  meningkatnya jaringan televisi satelit dan televisi kabel, VCR, DVD dan  Internet, pada saat yang sama penyedia konten baru banyak bermunculan.  Melihat contoh diatas Teori Functional Displacement  menyatakan bahwa  jika jaringan televisi ingin bertahan dalam menghadapi perubahan, maka  harus mencari dan melakukan perubahan fungsi baru yang dapat melayani  dengan lebih baik dari media baru. Jika fungsi baru ditemukan maka  sebuah media lama akan mampu bertahan menghadapi perubahan media baru  yang biasanya diikuti dengan perkembangan teknologi media terbaru (Baran  dan Davis, 2010).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewartafoto.org/on-line-newspaper/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia in World Press Photo</title>
		<link>http://pewartafoto.org/indonesia-in-world-press-photo</link>
		<comments>http://pewartafoto.org/indonesia-in-world-press-photo#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 22:07:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nickmatulhuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journalism]]></category>
		<category><![CDATA[News and Events]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewartafoto.org/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia and Indonesian are not something new in World Press Photo. Back in 1980, Mochtar Lubis whose name is now being used for one of the most prestigious journalism award in Indonesia, was appointed as one of the jury. Many years before, in the mid 60s, a young Indonesian photojournalist worked for Associated Press that [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia and Indonesian are not something new in World Press Photo.</p>
<p>Back in 1980, Mochtar Lubis whose name  is now being used for one of the most prestigious journalism award in  Indonesia, was appointed as one of the jury. Many years before, in the  mid 60s, a young Indonesian photojournalist worked for Associated Press  that time, Piet Warbung, born in Manado, took a picture of a protest,  where a soldier stand tall on guard position, facing demonstrators, one  of which a young woman, with despair look for exhaustion being in the  protests for many days. The picture didn’t win any award, but made its  way through the catalog and being exhibited around the world, along with  all the winning images.</p>
<p>Kartono Ryadi, a legend in Indonesian  photojournalism, and one of Kompas’ most valuable photojournalist,  received certificate from the World Press Photo, twice. The first one  would be in 1974, showing Prince Bernhard of the Netherlands, holding an  orang utan, when he visited the Ragunan Zoo, in Jakarta, Indonesia, as  the president of the World Wildlife Fund. The other picture took in  1980, a story about the birth of the dolphins in Ancol, Jakarta Bay.  Those pictures, received the WPP certificate for “Happy News” and  “Sequences”.</p>
<p>Another Indonesian photojournalist who  also received a certificate for Spot News category, would be Zaenal  Effendi. His black and white picture of a worker who  got electrocuted and died hanging on the top of electric poles in the  streets of Jakarta, taken in 1977.</p>
<p>Then finally, in 1995, Sholihuddin, a  reporter with a camera, won the WPP’s 1st prize for Spot News category.  He worked for JawaPos when he took the winning image.</p>
<div id="attachment_171" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2011/03/sholihuddin.jpg"><img class="size-medium wp-image-171" title="sholihuddin" src="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2011/03/sholihuddin-300x203.jpg" alt="" width="300" height="203" /></a><p class="wp-caption-text">A military truck carrying over 100 youths keels over under its heavy load. The passengers were supporters of local football club Persebaya, enjoying a free ride home and waving flags to celebrate their team&#39;s victory. The truck - one of 24 made available by a military commander - capsized after only one kilometer. Most of the passengers escaped unharmed, but 12 were hospitalized with minor injuries. </p></div>
<p>Tarmizy Harva from Reuters, has also  awarded for Honorable Mention for Spot News Singles category in WPP  2003. The quiet guy with long frizzy hair always looked serious and  hardly smile. Maybe because he had all the tough times in Aceh. His  picture was about a 20 years old Muzakir Abdullah, a pesantren teacher  (Islamic boarding school) in northern part of Aceh, who was killed  during Military Emergency era in Aceh, Indonesia.</p>
<p>Another image taken in Aceh was,</p>
<div id="attachment_172" class="wp-caption alignnone" style="width: 370px"><a href="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2011/03/2005060.jpg"><img class="size-full wp-image-172 " title="2005060" src="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2011/03/2005060.jpg" alt="" width="360" height="130" /></a><p class="wp-caption-text">Destroyed palm trees line near Banda Aceh two months after the massive tsunami that swept over the area. It is estimated that the height of the wave exceeded 15m when it hit the shore. Almost all buildings, trees and vegetation around Lhoknga were washed away. Low-lying agricultural land behind the town remained under salt water for four days after the tsunami, with severe consequences for farmers. In some places nearly all of the sand on the beach was removed by the wave. </p></div>
<p>NOT made by Indonesian photojournalist,  but a photographer based in Rome, instead. The Italian Massimo  Mastrorillo, won the 1st prize, in Nature category.</p>
<p>That picture, for me-personally, was a  big loss. Not just because there are alot of Indonesian photogs who were  also there, covering tsunami in Aceh, and come back home with haunted  memories of the dead bodies there, but also because I know there’s a  similar angle took by Indonesian photojournalist, Maha Eka Swasta, shot  at the same spot, and didn’t win.</p>
<div id="attachment_174" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2011/03/tsunami011.jpg"><img class="size-medium wp-image-174" title="tsunami011" src="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2011/03/tsunami011-300x217.jpg" alt="" width="300" height="217" /></a><p class="wp-caption-text">Photo by ANTARA FOTO/Maha Eka Swasta</p></div>
<p>But of course, the judges must have their own considerations.</p>
<p>But it was then..</p>
<p>NOW, the result of World Press Photo  2010 has been announced. An Indonesian photojournalist, shooting in  Indonesia is awarded for <a href="http://www.worldpressphoto.org/index.php?option=com_photogallery&amp;task=view&amp;id=2043&amp;Itemid=292&amp;bandwidth=high" target="_blank">2nd Prize Stories</a> this year. BRAVO!! Congratulation for Kemal Jufri for his winning  pictures of the Eruption of Mount Merapi, Central Java, Indonesia, shot  in November 2010. His work was selected among 108059 images that were  submitted to the  contest. The number of participating photographers in  WPP 2010 itself, was 5847,  representing 125 different nationalities.</p>
<div id="attachment_176" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2011/02/wpp.jpg"><img class="size-medium wp-image-176" title="wpp" src="http://pewartafoto.org/wp-content/uploads/2011/02/wpp-300x196.jpg" alt="" width="300" height="196" /></a><p class="wp-caption-text">www.worldpressphoto.org</p></div>
<p>Kemal is one of Indonesia’s leading  photojournalist. [ Heck, he was Asia's leading photojournalist, and now,  he's taking the world. ;p ]. He’s one of a very very few Indonesian  photojournalist who decided to be freelance, going pro, all the way and  built his carrier in the hard way for many years when others preferred  to be in a settled media institution. His work has been paid off. Again,  CONGRATULATION! He is officially the first Indonesian Photojournalist  who put Indonesia in the winners’ list.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewartafoto.org/indonesia-in-world-press-photo/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
