Foto Pengungkap Rahasia
Journalism, Law and Justice, Photography, Social and Politics Tuesday, April 12th, 2011“Frame foto saya menunjukkan pukul 11:39:23 saat saya mulai mengambil gambar Arifinto. Semua foto telah saya serahkan kepada redaksi Media Indonesia,” kata Irfan. “Saya mengambil cukup banyak gambar, sekitar 60. Frame terakhir menunjukkan pukul 11:41:57″. M. Irfan, pewarta foto Media Indonesia, berharap tidak perlu lagi mengulangi pernyataan itu saat diwawancara pewartafoto.org.
Lewat sambungan telepon, pada Selasa (11/4) pagi, di tengah hari liburnya, Irfan berbagi cerita dan pandangannya sebagai seorang pewarta foto tentang foto menghebohkan yang menghiasi pemberitaan sejak Jumat (8/4) lalu. Sebagai rekan seprofesi, kita tahu apa yang sebuah kamera digital bisa lakukan dengan continuous mode selama 2 menit 34 detik. 60 frame bahkan terlalu sedikit. Pewarta foto yang sudah hampir satu dekade bekerja di Media Indonesia itu, memberi bocoran bahwa pada saat ia “melihat kenyataan” yang dilakukan seorang anggota dewan (saat memotret, ia masih belum tahu identitas sang pengguna komputer tablet itu) lewat kameranya, memory card yang terpasang masih berisi foto-foto kemarin yang belum sempat ia hapus. “Aku motret terus hingga CF nya full. Memang pake continuous, tapi tetap nunggu momen sampai ia buka folder dan menunjukkan momen yang pas,” jelasnya. “Pelajaran juga nih untuk teman-teman, setiap hari kalau bisa, folder harus kosong. Biar kalau dapat hal seperti ini, hasilnya bisa maksimal”.
Irfan menganggap tidak tepat bila momen yang berhasil ia abadikan itu, murni faktor keberuntungan. “Harus ada usaha lah, motret dewan yang sedang melakukan hal lain saat berlangsung sidang paripurna itu kan bukan sekali dua kali. Kalau kita tidak usaha terus mencari momen yang unik dari hal yang sudah biasa itu, kita hanya akan dapat foto yang membosankan”. Laki-laki penyayang binatang yang berusia 40 tahunan ini memang bukan sekali ini saja memotret di DPR. Bahkan hampir dua tahun belakangan, ia telah ditugaskan untuk ngepos di gedung parlemen tersebut, bergantian dengan rekan sekantornya, Susanto. Tidak banyak pewarta foto yang menyukai diposkan di tempat-tempat yang gampang membuat jenuh seperti DPR dan Istana. Tapi Irfan mengaku tidak mengeluh, “Ini kan bentuk pertanggung jawaban terhadap profesi, ditempatkan di mana pun ya terima saja dan terus berusaha menampilkan yang terbaik”.
Tanpa menapik bahwa memang bisa sangat membosankan untuk memotret di DPR, Irfan berpendapat, “Pewarta foto tidak boleh cepat menyerah pada kebosanan dan harus terus berusaha untuk mencari sesuatu yang benar-benar baru dengan menghindari pengulangan. Memang tidak bisa tiap hari juga dapat foto yang menarik dan berbeda, tapi kalau kita tidak mencari, fotonya ya cuma orang duduk, ngomong, bangku kosong dan interupsi. Insting kita harusnya ya mencari aktivitas anggota dewan yang unik, biar tidak monoton”.
Lucunya, kebosanan dan jenuh saat sidang juga yang menjadi dalih Arifinto yang dikonfrontir tentang kejadian itu. Posisi Irfan yang berada tepat di atas Arifinto yang tengah duduk di bangku pojok kiri belakang – tidak jauh dari pintu keluar ruangan sidang Paripurna, membuatnya bisa men-zoom ke gadget yang dipegang anggota DPR dari Fraksi PKS itu sehingga bisa melihat dengan jelas apa yang saat itu terjadi. “Yah, jenuh itu manusiawi, tapi kita jangan sampai salah langkah,” pesan Irfan.
Lebih lanjut Irfan menuturkan kejadian menjelang waktu solat Jumat tersebut. “Sesudah aku motret aksi walk out Gerindra dan PDIP, aku balik lagi untuk motret suasana kosong dari Balkon. Saat cari angle yang bagus, aku tertarik lihat anggota dewan (Arifinto) yang memainkan gadgetnya. Aku lihat kok filenya kotak-kotak berjejer, berbentuk thumbnail. Waktu memotret, aku belum tahu dia sebenarnya sedang ngapain.” –versi lengkapnya bisa dibaca di sejumlah artikel mediaindonesia.com – “Ketika aku close up hingga ambil tangannya yang megang tablet, aku baru sadar bahwa ia sedang menonton film porno. Kalau dari yang kulihat di layar itu sih orang Asia. Saat itu aku kaget dan langsung motret momen demi momen secara cotinue.” Karena waktu itu sudah masuk waktu solat Jumat, Irfan pun baru mengirim foto tersebut sesudahnya. Sambil berkelakar, ia menggoda teman-teman yang lain yang juga ngepos di DPR. “Gue udah tenang Mam, sudah dapat foto HL!” ujarnya mengingat percakapannya dengan Imam Sukamto, pewarta foto Koran Tempo. Kehebohan langsung terjadi saat teman-teman di ruangan pressroom itu melihat Irfan mengedit foto. Namun baik Irfan maupun teman-teman yang lain, tidak menyadari kehebohan tersebut akan bertambah besar, sesudah foto tersebut naik dan menjadi HL di website Media Indonesia. (untuk melihat rangkaian foto yang menghebohkan itu, klik di sini)
“Sebenarnya, sesudah aku dapat foto itu, aku langsung telepon Mas Hariyanto – redaktur foto Media Indonesia – Aku bilang, mas, aku dapat foto sidang paripurna, anggota DPR nonton BF (Blue Film). Dia langsung jawab, mantaap! Kirim! Cari tahu siapa orangnya!” jelas Irfan kepada pewartafoto.org. Editor yang bertanggung jawab hari itu, Agus Mulyawan dan M. Soleh pun langsung berkomentar “Oke Fan, Sudah lihat fotonya! Gilaaa!”. Selang beberapa jam setelah HL di mediaindonesia.com, foto-foto tersebut langsung menghiasi hampir semua media online di Indonesia. Seorang anggota fraksi PKS yang sedang menghadiri diskusi di pressroom pun langsung diminta konfirmasi mengenai sosok yang diduga Arifinto tersebut. Jumat sorenya, Arifinto akhirnya mengelar konferensi pers untuk memberikan klarifikasi.
Irfan tidak kalah tenar dari Arifinto. Menjelang Jumat sore itu, ia juga diburu oleh wartawan lain untuk dimintai keterangan. Beberapa teman bahkan mengkhawatirkan keselamatannya karena masih tetap memotret di DPR di tengah kehebohan itu. “Lillahi Taala saja. Bismillah,” ucapnya pasrah. Salah satu alasan mengapa kehebohan itu terjadi, karena foto yang dipasang di media onlinenya menunjukkan konten video yang begitu jelas, dan tidak di-blur-kan. Media Indonesia akhirnya mengambil keputusan untuk mengganti foto tersebut dengan foto yang lebih “bijaksana” dan menarik Irfan kembali ke kantor untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Rahasia Gayus di Bali
Karya pewarta foto yang menghebohkan, bukanlah sesuatu hal yang baru. Baru-baru ini belum lepas dari ingatan kita, foto Gayus Tambunan yang memakai wig dan “libur” dari penjara, untuk menonton pertandingan Tenis di Bali. Meskipun ada beberapa pewarta foto yang memotret hal yang sama, satu pewarta foto Kompas, Agus Susanto merupakan yang paling tenar di antara yang lain.
“Aku ngga tahu jelasnya ada berapa yang motret saat itu, soalnya banyak juga hobiis,” terang Ags, panggilan akrabnya. “Waktu itu aku malah dikasih tahu Peksi Cahyo (Tabloid Bola) waktu mau masuk lapangan”. Hari itu adalah hari kedua berlangsungnya Commonwealth Bank Tournament of Championship di Bali. Mungkin karena sudah sering ditanya tentang hal yang sama, Ags mengingat persis bahwa pada Jumat, 5 Nopember 2010 itu, ia sedang memotret pertandingan kedua hari itu, yakni antara Yanina Wickmayer (Belgia) melawan Daniela Hantuchova (Slowakia). Ags yang sering dianggap mirip dengan Rhoma Irama ini, mengaku penjaga tiket adalah orang pertama yang melihat orang mirip Gayus dan memberi tahu wartawan yang masuk venue. “Tapi ya itu, harus dicari sendiri di antara sekitar 500 penonton.”
Untungnya, konsentrasi Ags saat memotret jalannya pertandingan tidak perlu terganggu dengan misinya mencari orang mirip Gayus. “Fokusku kan ke pertandingan pertama, sedangkan pertandingan kedua aku cuma bikin stock buat profile saja,” terangnya. Butuh waktu hampir satu jam dengan harus pindah tempat duduk tiga kali untuk menemukan orang yang dimaksud.
Meskipun nama Ags yang paling sering disebut-sebut dalam pemberitaan, namun foto Sony Laksono alias Gayus Tambunan itu justru baru diterbitkan Kompas sehari sesudah koran The Jakarta Globe memuatnya. Saat ditanyakan kenapa, Ags hanya menjawab singkat pada pewartafoto.org, “Itu urusan redaksional, belum ada berita yang kuat saat itu yang bisa mendukung foto.” Saat ini kasus yang sempat menyeret namanya itu sudah selesai, karena Gayus telah mengaku pada persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Seperti halnya Irfan, Ags juga mengaku tidak takut dengan konsekuensi yang mungkin terjadi dengan pemuatan foto tersebut. “Tidak lah, itu kan tugas jurnalis, sebagai kontrol sosial,” katanya bijak. Editor fotonya pun saat itu hanya mengatakan, “Santai saja, kamu boleh libur seminggu.”
Juga lewat telepon, Redaktur Foto Media Indonesia, Hariyanto mengungkapkan kebanggannya akan kerja keras Irfan pada pewartafoto.org. “Bangga dong. Karena apa yang selama ini kita usahakan bersama-sama, sebagai tim di desk foto Media Indonesia kan ada hasilnya. Yaitu menghasilkan satu foto yang eksklusif, yang tidak dihasilkan orang lain,” ujarnya.
Short URL: http://pewartafoto.org/?p=398


















M Irfan dan AGS emang gak ada matinye….. Bangga
salut but mas Agus dan Irfan, keep on rockin bro
Mantab Mas…..Salute…
salute