Home » Photography » From Still to Motion dan “Kematian” Fotografi

From Still to Motion dan “Kematian” Fotografi

Agus Susanto lagi ujicoba video DSLR.

Agus Susanto lagi ujicoba video DSLR.

Sejumlah fotografer di Amerika menyatakan, kini adalah waktunya mereka tidak lagi menjadi seorang fotografer, hanya karena kamera digital SLR sekarang tidak lagi sekadar untuk memotret tapi sudah memiliki kemampuan menghasilkan video full high definition (HD).

Di seluruh dunia, para penggemar fotografi telah menggunakan video sebagai alat baru mereka untuk bercerita. Pernyataan itu diungkap dalam buku “From Still to Motion” terbitan New Riders, Voices That Matter, 2010. Bahkan disebutkan para profesional di bidang video tradisional juga sudah beralih menggunakan kamera digital SLR tersebut, selain portabel, juga untuk mengembangkan kemampuan mereka merekam gambar yang indah.

Akankah fotografi mati?

Sebelum menjawab pertanyaan, kita lihat dulu sedikit jejak evolusi kamera digital yang tumbuh berangsur-angsur namun terasa cepat. Berikut ringkasan yang dihimpun dari berbagai sumber di Internet.

Kamera digital pertama ditemukan pertama tahun 1990 namanya Dycam Model 1 di Amerika. Masih tahun yang sama tercipta kamera teleskop Hubble disusul kemudian kamera digital SLR Kodak DCS-100 yang menggunakan eksternal HDD.

Era tahun 1994, Kodak memproduksi kamera pocket QT 100 untuk Apple. Produksi massal kamera digital warna pertama dengan resolusi hasil foto 640 x 480 yang menggunakan memori internal.

Di tahun yang sama, Kodak bersama Associated Press di Amerika memproduksi AP/Kodak NC2000 dan NC2000E, kamera digital SLR profesional pertama yang dipasarkan khusus untuk jurnalis foto. Tahun tersebut juga diciptakan Compactflash memory pertama kapasitas 1 Mb oleh SanDisk bekerjasama dengan Kodak.

Tahun 1998, Canon memproduksi kamera digital SLR EOS D6000 dengan 3040×2008 pixel CCD. Dimulai dari tahun ini pula, kamera digital beberapa terlihat digunakan oleh masyarakat umum di Indonesia terutama oleh para jurnalis foto.

Tahun 2000-2006 Canon dan Nikon terasa gencar memproduksi kamera digital SLR dengan kualitas dan fitur dari tiap seri ke seri semakin bagus. Kemudian tahun 2009 Canon untuk pertama kali mengeluarkan kamera digital SLR sekaligus video dengan kualitas HD yaitu Canon 7D.

Nah, bagaimana dengan 2010, hingga tahun-tahun ke depan?

Saat ini kamera digital memang masih membedakan proses pengambilan foto dan video. Artinya masih ada dua langkah pilihan untuk mendapatkan dua hasil tersebut (foto dan video).

Prediksi untuk dua, lima bahkan 10 tahun mendatang, guna mendapatkan dua hasil tersebut cukup satu kali pencet dan prosesnya tidak dibedakan lagi. Bisa jadi nanti kita cukup mengarahkan kamera layaknya shooting menggunakan video kamera. Dari hasil video bisa kita capture beberapa frame atau angle yang dianggap klimaks untuk dipotong dijadikan foto berkualitas tinggi.

Sebenarnya teknologi ini sudah ada digunakan oleh kamera Red One buatan Amerika yang sekali shoot bisa dapat video dan bisa dipotong untuk foto kualitas super. Artinya teknologi itu sudah siap. Meskipun saat ini harganya masih super mahal. Tapi, ke depan tentu akan bersaing dengan produk lain yang kian murah.

Fotografi mungkin tidak akan mati, akan tetapi prosesnya yang akan “mati” atau minimal berubah dengan hasil akhir yang sudah multiplatform – multimedia.

Short URL: http://pewartafoto.org/?p=211

Posted by sigembol on Mar 8 2011. Filed under Photography. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry
Become a Fan

13 Comments for “From Still to Motion dan “Kematian” Fotografi”

  1. Yang punya red one kalo ga salah yang punya oakley kan ya? Salah satu karya yang gunain kamera red one itu social networking. Baru search gugel. Have anyone actually seen the camera? Berbagi cerita dunks..

  2. comment yang sebelumnya tolong diedit, social networking diganti jadi social network haha.. itu loh.. pelm tentang fesbuk

  3. btw si gembol siapa ya? tolong pake nama asli dong mas..jgn alias

  4. Tulisan menari. Tapi kalau fotografi saya pikir tidak karena telah teruji dengan mulai adanya TV sampai animasi-animasi. Tapi kalau fotojurnalistik, barangkali.

  5. Dengan alat yang canggih, jepretan anak TK dan fotografer profesional bisa tidak jauh beda

  6. Sekitar tahun 2006-2007, NPPA telah memperkenalkan apa yang disebut sebagai videophotojournalist:). Bahkan dalam salah satu kontes NPPA, pemenangnya adalah seorang videografer.
    Mengutip komentar Zani : “jepretan anak TK dan fotografr profsional bisa tdak jauh beda”, mungkin berlebihan, setidaknya dasi sisi konten, jangankan anak TK, sesama pro saja bisa jadi berbeda nilainya.

  7. waa, keren ………. jd malaz niii blajar moto

  8. berarti kesenjangan antarperusahaan media (cetak) nanti juga bakal semakin luebarrrr. yg pnya modal gede, lebih diminati karena alat lebih canggih, kualitas foto lebih bagus dan variatif. hukum rimba.

Leave a Reply

 
Get Firefox
Follow pewartafoto on Twitter

FEATURED VIDEOS

About PFI | Contact Us | Officers | Subscribe Homepage | Subscribe Forum | Become a Fan | Follow Us © 2012 Indonesian Photojournalist Association. All Rights Reserved.