Home » Journalism » On Line Newspaper

On Line Newspaper

Tulisan ini merupakan kontribusi member forum PFI, Ignatius Liliek, yang sekiranya bisa menambah pengetahuan rekan-rekan.

Koran adalah medium massa utama bagi orang yang menginginkan memperoleh informasi atau tentang segala macam berita. Di sejumlah kota-kota besar, tak ada sumber berita yang bisa mensejajarkan keluasan dan kedalaman liputan berita koran. Hal ini secara tidak langsung memperkuat popularitas dan pengaruh koran (Vivian, 2008). Namun, pada masa perkembangannya bukan berarti medium massa ini tidak pernah menghadapi masalah. Ancaman dari media pesaing, pergeseran gaya hidup dan hadirnya teknologi baru merupakan sejumlah contoh permasalahan yang harus dihadapi koran. Selain itu, masalah lain yang cukup menyulitkan medium cetak ini adalah banyaknya generasi muda yang meninggalkan koran. Menghadapi permasalahan tersebut sampai saat ini koran selalu bereaksi secara efektif, seperti ketika menandingi serbuan televisi, koran memberikan perhatian dan penekanan baru sebagai medium visual dan menyajikan lebih banyak gambar serta foto berita berwarna yang penuh dengan estetika (Vivian, 2008).

Industri koran perlahan mulai menyadari bahwa kejayaan teknologi tinta dan kertas mulai terbatas, untuk itu medium ini mulai mempertimbangkan metode baru berupa pengiriman secara elektronik. Pengiriman elektronik merupakan metode pengiriman berita langsung ke layar komputer pembaca (Vivian, 2008). Koran masuk ke dunia internet pada tahun 1990-an dengan membuat situs-situs berita, pada tahun 1994 baru sekitar 20-an koran harian sudah memiliki websites dan pada 2009 tidak ada satu pun surat kabar yang tidak memiliki website. Peralihan dari media tradisional ke media digital ini merupakan bagian untuk menyelamatkan bisnis media dengan menghemat pengeluaran dan menaikkan keuntungan serta beradaptasi dengan gaya hidup baru pembaca yang senantiasa selalu berubah (Dominick, 2011).

Surat kabar on line menawarkan sejumlah keuntungan yang lebih bila dibandingkan dengan dari media tradisional antara lain; (1) Surat kabar cetak selalu mengeluarkan per edisi dan terbatas. Media on line tidak memiliki keterbatasan, keseluruhan isi teks berita, transkips wawancara, informasi grafis maupun foto dapat diakses dengan mudah. (2) Surat kabar on line dapat di perbaharui secara terus menerus dan tidak memiliki edisi deadlines. (3) Surat kabar on line bersifat interaktif seperti alamat e-mail, bulletin, chat rooms, maupun komplain dari pembaca yang dapat langsung direspon dengan cepat oleh redaksi. Surat kabar on line juga bisa memberikan informasi berupa link ke website lainnya. (4) Surat kabar on line menyediakan foto, video, klip audio untuk melengkapi berita dan iklan. Bahkan, beberapa juga menawarkan kesempatan untuk berinteraksi dengan jaringan sosial. (5) Surat kabar on line juga menampilkan berita-berita dari pembaca atau user (Dominick, 2011).

Salah satu karakter surat kabar on line adalah mengirim langsung berita ke pembaca. Koneksi internet yang dapat dilakukan melalui telepon genggam dan laptop cenderung membuat sejumlah orang untuk mengakses berita langsung melalui telepon genggam yang mereka miliki. Akses berita melalui telepon genggam ini cenderung meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Hal ini membuat sejumlah media menawarkan aplikasi program langganan edisi mobile ke dalam teknologi telepon genggam. Penawaran aplikasi langganan edisi mobile ini berpotensial meningkatkan pemasangan iklan di media tersebut, karena iklan tersebut akan langsung dikirim secara digital secara personal ke telepon genggam konsumen (Dominick, 2011). Berkembangnya sosial media di internet juga dimanfaatkan oleh surat kabar on line untuk meningkatkan atau membangun readership. Salah satunya contohnya adalah dengan menyediakan judul berita utama headline mereka ke dalam jaringan sosial media, twitter. Selain itu, penggunaan sosial media ini juga dapat meningkatkan interaksi pembaca pada saat liputan, breaking news maupun acara-acara liputan langsung dengan memberikan kesempatan kepada followers media tersebut untuk mengomentari sebuah berita (Baran, 2010).

Usaha penyelamatan bisnis media ini terus menerus dilakukan dengan menciptakan inovasi-inovasi. Namun, sejumlah keuntungan dari peralihan media tradisional ke media digital ini juga tidak serta merta membuat medium massa ini menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi perusahaan koran masa kini, terutama mengingat biaya dalam membuat website sangat murah sehingga media pesaing lainnya seperti stasiun televisi dan stasiun radio juga dapat melakukan hal yang sama dengan membuat situs yang cukup memiliki daya saing (Vivian, 2008). Selain itu, pendapatan yang dihasilkan melalui iklan tidak sebesar seperti pada edisi cetak, para pemasang iklan mengetahui bahwa pembaca pada versi on line tidak menghabiskan waktu yang lama ketika mengakses sebuah web surat kabar on line, mereka hanya melihat versi cetak pada web tersebut yang biasanya ditampilkan dalam bentuk e-paper (Dominick, 2011). Hal ini berarti surat kabar cetak masih menjadi suplai utama penghasilan industri koran masa kini, sehingga hal tersebut juga dapat menepis pernyataan yang menganggap bahwa media ini akan hilang. Melihat hal tersebut industri koran ini juga harus bereksplorasi memikirkan cara dan fungsi barunya untuk dapat menghasilkan pendapatan lebih besar lagi, seperti dengan merencanakan kerjasama iklan bersama perusahaan internet seperti Yahoo!, google atau perusahaan media besar lainnya. (Dominick, 2011).

Kemunculan sebuah media baru pasti selalu diikuti dengan perkembangan industri tersebut, dengan menggunakan teknologi terkini sebuah industri lama dapat dipaksa melakukan restrukturisasi mengikuti perubahan dalam skala yang luas dan cepat. Perusahaan besar dengan teknologi lama mengalami kemunduran, sedangkan perusahaan baru mendapatkan keuntungan yang lebih besar melalui teknologi baru yang digunakan. Untuk dapat bertahan perusahaan yang lama ini harus berusaha menghadapi persaingan dengan memikirkan cara-cara baru sebagai sebuah strategi untuk dapat mensejajarkan produknya dengan perusahaan lain yang menggunakan teknologi baru dalam menyampaikan pesan terhadap khalayak luas. Terkadang perusahaan lama ini berhasil mempertahankan medianya, namun tidak sedikit pula yang gagal (Baran dan Davis, 2010). Proses diatas disebut dengan teori functional displacement dimana fungsi dari media yang ada digantikan oleh teknologi baru, maka media lama kemudian mencari fungsi yang baru (Baran dan Davis, 2010). Sebagai contoh, seperti terdapat pada tulisan diatas dimana industri koran pada waktu bereaksi dengan lebih memperhatikan dan menyajikan medium visual yang berwarna dan artisitik lebih banyak ketika menghadapi serbuan televisi. Selain itu contoh yang lain pada media elektronik adalah penurunan penonton jaringan televisi secara terus menerus yang disebabkan oleh meningkatnya jaringan televisi satelit dan televisi kabel, VCR, DVD dan Internet, pada saat yang sama penyedia konten baru banyak bermunculan. Melihat contoh diatas Teori Functional Displacement menyatakan bahwa jika jaringan televisi ingin bertahan dalam menghadapi perubahan, maka harus mencari dan melakukan perubahan fungsi baru yang dapat melayani dengan lebih baik dari media baru. Jika fungsi baru ditemukan maka sebuah media lama akan mampu bertahan menghadapi perubahan media baru yang biasanya diikuti dengan perkembangan teknologi media terbaru (Baran dan Davis, 2010).

Short URL: http://pewartafoto.org/?p=183

Posted by nickmatulhuda on Mar 8 2011. Filed under Journalism. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry
Become a Fan

Leave a Reply

 
Get Firefox
Follow pewartafoto on Twitter

FEATURED VIDEOS

About PFI | Contact Us | Officers | Subscribe Homepage | Subscribe Forum | Become a Fan | Follow Us © 2012 Indonesian Photojournalist Association. All Rights Reserved.