Home » Photography » Pengalaman Sang Pemenang

Pengalaman Sang Pemenang

Perhelatan Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2010 telah usai. Dan kita ketahui bersama pemenang untuk kategori foto diraih oleh wartawan foto dari Media Indonesia, Susanto, dengan fotonya berjudul Evakuasi Merapi. Lewat tulisan berikut ini, Susanto ingin membagikan pengalaman menegangkan selama proses pemotretan foto tersebut. Semoga pengalaman yang ditulis langsung oleh Susanto ini bisa menjadi pelajaran bagi kita, terutama saat melakukan liputan di daerah bencana ataupun konflik.  Berikut tulisan lengkapnya……

Malam itu, Kamis (4/11) saya memutuskan untuk pindah dari Hotel Moro Seneng di daerah Hargobinangun, Sleman, tempat pertama kali saya menginap. Bukan apa-apa, kondisi Merapi saat itu tidak pasti. Suara gemuruh tiap saat menggema, pun dengan getaran kaca kamar hotel yang kian lama intensitasnya semakin tinggi. Ditambah, lantai depan kamar hotel yang selalu menjadi andalan saya dan teman-teman untuk memantau puncak Merapi, kali ini tidak bisa digunakan karena kabut tebal menyelimuti puncaknya.

Alasan itulah yang membuat saya mengurungkan niat untuk tetap bertahan di hotel yang boleh dibilang strategis itu. Mau ke tempat pengungsian dekat, turun untuk mengungsi pun begitu. Namun, apa mau dikata, memang sudah saatnya pindah lokasi ke tempat yang lebih aman, menjauh dari zona bahaya seperti yang diamanatkan peneliti Vulkanologi Surono alias Mbah Rono.

Saya dan Tri Saputro (Barcroft Media) akhirnya turun mencari penginapan lain yang lebih aman meninggalkan dua rekan Eko Purwanto (Seputar Indonesia) dan Tahta Aidilla (Republika) yang bersikeras untuk tetap tinggal. Setelah mendapat tempat yang cocok, tiga kilometer dari tempat semula, saya mengeluarkan semua peralatan dan melakukan ritual mandi yang sempat tertunda selama lebih dari tiga hari. Usai mandi, Tri Saputro atau biasa kami panggil “Gondrong” pamit untuk turun menginap di kota dan saya pun beristirahat.

Wake Up Call

Jumat (5/11) dinihari, saya terbangun dengan suara plastik “kresek” hitam di langit-langit kamar yang digunakan untuk menambal plafon yang jebol. Bak suara bass pecah, plastik tersebut bergetar keras seiring dengan getaran dari gempa. Bak jam weker, suara dan getaran itu membangunkan saya dari tempat tidur dan berusaha mengetahui kondisi di luar. Suara kepanikan penghuni kamar sebelah untuk mengungsi ditambah pekikan klakson kendaraan roda dua dan roda empat mendominasi .

Hujan kerikil pun turun ditambah lampu penginapan yang mati membuat suasana semakin mencekam. Teringat dua teman (Eko dan Tahta), saya mencoba menghubungi mereka untuk segera mengungsi. Beruntung Tahta bisa dihubungi dan mengabarkan kondisinya yang sedang bersiap-siap meninggalkan penginapan. Bermodal hp yang memiliki fasilitas senter di saku celana, saya mencoba menggapai kamera, tas pinggang, tas berisi laptop, helm, jas hujan “ponco” dan kunci bersama motor sewaan meninggalkan hal lain yang tak kuanggap penting untuk mengungsi ke bawah.

Dengan kondisi penglihatan yang terbatas akibat hujan abu dan hujan kerikil bercampur air, saya mencoba mengikuti arah kendaraan di depan. Sesekali saya mengusap kaca helm, namun hal itu justru memperparah jarak pandang hingga akhirnya saya berhenti di tenda di pintu gerbang Universitas Islam Indonesia (UII) di daerah Kaliurang yang menjadi posko pertama.

Di dalam tenda, saya siapkan semua peralatan. Tak lama saya akhirnya bertemu dengan dua orang teman seperjuangan yang sempat terpisah. Tak ingin kehilangan momen, saya mencoba menangkap situasi kepanikan yang terjadi saat itu. Tangisan anak kecil dan perempuan yang berlindung di kendaraan bak terbuka dengan tumpukan debu bercampur air hujan di sekujur tubuh, suara peluit polisi saat mengatur jalan serta teriakan pengendara motor yang memaki pengendara di depannya untuk mempercepat laju.

Tak lama kemudian, dua mobil bak terbuka berhenti di depan posko. Mereka tampak tergesa-gesa ke dalam tenda. Terbersit rasa penasaran, saya pun mendekati . Logat orang itu tak asing bagi saya diantara logat jawa kental yang memenuhi posko. Ternyata mereka adalah relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dari Jakarta yang mencari seseorang yang mengerti seluk beluk dusun-dusun di sekitar lokasi bencana setelah mendapat informasi ada sebagian warga yang minta dievakuasi. Salah satu mahasiswapun mengangguk, dan tak lama mereka kembali ke kendaraan. Spontan, saya pun naik ke bak belakang salah satu kendaraan tersebut bersama mahasiswa tersebut. Saat itu juga mobil pun dipacu sambil mendengarkan arahan dari mahasiswa yang berfungsi sebagai penunjuk jalan.

Evakuasi Korban

Di tengan hujan abu, mobil melaju kencang menuju lokasi yang dituju. Selang belasan menit, dari kejauhan tampak segumpal awan ke merah-merahan. Saya pun langsung menanyakan perihal awan itu kepada sang penunjuk jalan. Awalnya ia tidak yakin dengan apa yang saya lihat, namun akhirnya ia pun berkata kepada sang supir.

“Kalau memang tidak memungkinkan, kita kembali saja…” ujarnya. Namun hal itu ditampik sang supir. Ia menegaskan ada warga yang membutuhkan pertolongan dan tidak akan kembali sebelum menemukan tempat yang dimaksud. Lama kelamaan, kepulan awan kemerahan itu semakin mendekati kendaraan yang kami naiki.

Awalnya, kami kesulitan mencari Dusun Bronggang, lokasi yang kami tuju. Selain kendala hujan abu pekat yang menghalangi pandangan, ketiadaan orang lain yang kami jumpai cukup menyulitkan. Semua sudah mengungsi, hanya ada dusun-dusun “mati” yang ditinggal penghuninya. Tak putus asa, kamipun akhirnya sampai di tempat tujuan. Awan kemerah-merahan itu tak lain adalah refleksi asap dari terbakarnya belasan rumah di dusun tersebut. Namun, bak kacang rebus, abu panas disertai uapnya menghadang jalan kami.

Kami memutuskan untuk meniti jalan dengan perlahan sembari berteriak dan membunyikan klakson mobil. “Apakah ada orang….??” Teriak beberapa relawan. Usaha itu pun berhasil, tak lama kami mendengar teriakan dan rintihan minta tolong yang akhirnya mengarahkan kami ke beberapa rumah di sekitar dusun yang telah hangus terbakar.

Setelah yakin ada korban yang masih selamat, kami pun mencoba mendekati rumah yang terbakar tempat suara berasal. Hawa panas diselingi bunyi percikan ranting pohon terbakar sesekali terdengar. Baru beberapa langkah, tiba-tiba pondasi atap yang terbuat dari kayu di salah satu rumah ambruk. Sesegera kamipun mundur. Namun, telapak kaki saat itu terasa panas dan kendati saya mengenakan sepatu boot, juga tercium bau karet terbakar.

Tanpa sadar, saya menginjak abu yang masih cukup panas dengan kedalaman melebihi mata kaki. Akibatnya, alas sepatu boot yang saya gunakan di beberapa bagian meleleh sehingga secara refleks keluar dari area jalan yang tertutup abu panas ke tepian jalan. Namun, atas dasar niat tulus para relawan, mereka tetap ngotot untuk mengevakuasi korban yang masih bisa ditolong. Mereka pun menggunakan alat seadanya dan bahkan ada seorang relawan bernama Anwar melibatkan kakinya menggunakan selimut yang tersedia di bak mobil untuk menghindari panas.

Tak lama kemudian, relawan berhasil membawa korban yang selamat dengan meniti tepian jalan. Balita, wanita dan anak laki-laki satu-persatu mereka ambil dari dalam rumah yang terbakar. Kondisi mereka memprihatinkan, kulit terbakar, melepuh dan wajah mereka tertutup abu.

Saat itulah saya mencari tempat yang aman dengan berdiri di tepi jalan, kemudian mencari komposisi yang menurut saya pas. Mulai dari proses evakuasi hingga kondisi korban saat ditempatkan di bak belakang mobil. Awalnya saya sempat kesulitan, selain karena keterbatasan ruang gerak, kamera yang saya gunakan terlapisi debu akibat hujan abu yang masih terus berlangsung. Mulai dari jendela intip (viewfinder) tertutup debu, lensa kotor, hingga tombol “SET” yang berfungsi sebagai Life View di bodi kamera macet sehingga tertekan terus yang mengharuskan saya menyalakan dan mematikan (ON-OFF) kamera, karena kalau tidak fungsi Life View akan aktif.

Usai melakukan evakuasi awal, dan juga dikarenakan kapasitas kendaraan yang sudah penuh dengan korban, relawan pun memutuskan untuk secepatnya membawa para korban ke rumah sakit agar segera mendapat pertolongan. Setibanya di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Dr. Sardjito, relawan dibantu petugas medis membawa masuk para korban. Tak lama, kendaraan kami pun kembali menuju ke lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi lanjutan.

Dengan alasan sudah mendapatkan gambar aman, kondisi lokasi yang berbahaya dan tidak ingin mati konyol, saya pun memutuskan untuk tidak ikut ke dusun tersebut. Sampai akhirnya saya dan mahasiswa penunjuk jalan meminta diturunkan di posko UII tempat pertemuan awal kami. Dan kami pun berpisah, kembali ke “habitat” kami masing-masing. Relawan melakukan evakuasi, mahasiswa sang penunjuk jalan kembal ke posko, dan saya pun melanjutkan kewajiban untuk mengirim gambar.

Short URL: http://pewartafoto.org/?p=334

Posted by wisnu widiantoro on Apr 2 2011. Filed under Photography. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry
Become a Fan

4 Comments for “Pengalaman Sang Pemenang”

  1. widodo s jusuf

    terima kasih buat berbagi pengalamannya Pak Santo, sukses lanjut buat semua… salam, wsj

  2. Terima Kasih buat bung Santo membagi pengalamannya, Sukses terus…

  3. matur suwun mas santo atas bagi pengalamannya. sangat dramatis. salut untuk perjuangannya mendapatkan momen terbaik

    tabik
    @srikumoro

  4. Mengharukan, kita memang tidak bisa melawan alam yang atas kehendak-Nya mengganas. Kita hanya wajib berusaha. Berusaha untuk tetap jadi manusia yang peduli dengan manusia lainnya. Suwun mas Santo atas ceritanya.

Leave a Reply

 
Get Firefox
Follow pewartafoto on Twitter

FEATURED VIDEOS

About PFI | Contact Us | Officers | Subscribe Homepage | Subscribe Forum | Become a Fan | Follow Us © 2012 Indonesian Photojournalist Association. All Rights Reserved.